Feeds:
Posts
Comments

Pada pertengahan Desember tahun lalu, tepatnya tanggal 15 Desember 2009, saya dikontak oleh salah seorang Kepala Departemen yaitu Bp. Dwi Priyono di PT. GarudaFood sebagai anak perusahaan member dari TUDUNG GROUP, yang meminta saya untuk menjadi Narasumber Motivasi pada Rakorda Leader GarudaFood, yang rencananya diselenggarakan pada satu bulan lagi, tepatnya pada hari Jum’at 22 Januari 2010. (Sebagian besar manajemen perusahaan sudah tahu, jika mengundang saya sebagai Narasumber untuk acara perusahaannya, setidaknya satu bulan sebelum hari ‘H’ acaranya, agar saya bisa mendukung acaranya). Rakorda yang akan berlangsung selama dua hari ini sebagai tindak lanjut dari Rakornas yang telah diselenggarakan pada 15 – 17 Desember 2009.

Saya tahu TUDUNG GROUP adalah perusahaan holding company besar dengan jumlah pegawai ribuan orang, yang dipimpin oleh FOUNDER nya, yaitu Bp. SUDHAMEK sebagai CEO dan CHAIRMAN, dan mempunyai beberapa member perusahaan, diantaranya:

  1. PT. GarudaFood Putra Putri Jaya, terdiri dari 13 Manufacture : memproduksi makanan dan minuman, seperti kacang atom, kacang kulit, kacang oven, pillus, biskuit, jelly, susu, minuman kesehatan, potato, kerupuk, permen, dll.
  2. PT. Sinar Niaga Sejahtera (SNS) : untuk distribusi.
  3. PT. Bumi Mekar Tani : pertanian kacang.
SLOGAN GarudaFood adalah Leading In Innovation. Dan pada saat Rakorda Leader GarudaFood memakai Tag line Best In Class Quality. Rakorda ini dihadiri oleh sekitar 150 Leader pilihan dan beberapa pegawai berprestasi.

Rakorda yang dihadiri oleh para Leader, mulai Supervisor, Manager, Kepala Departemen, General Manager, Head of Manufacturing, sampai Wakil Direktur ini dihelat oleh pabrik GarudaFood PATI, bertempat di Hotel Puri Asri Magelang, dan berlangsung selama 2 hari, 22 – 23 Januari 2010. Saya diundang sebagai satu-satunya Narasumber Motivasi dari luar perusahaan TUDUNG GROUP. Luar Biasa Prima!


Para Leader GarudaFood serius mendengarkan saya

Founder dan Owner TUDUNG GROUP, Bp. SUDHAMEK, menginginkan perusahaan ini menjadi perusahaan Go International, dan menciptakan Spiritual Company… ini merupakan visi besar yang harus didukung dan segera diwujudkan oleh seluruh pegawai dan pimpinan dari seluruh perusahaan di bawah naungan TUDUNG GROUP ini.

Saya diundang sebagai Narasumber agar dapat memberikan motivasi, spirit, dan keyakinan pada para Leader di GarudaFood, sehingga mereka dapat mencapai target visi ini. Tentunya juga sikap mental – spiritual yang butuh dibangun untuk menjalankan kehidupan perusahaan selaras dengan semangat pendiri GarudaFood. Inilah Semangat Pendiri atau Founder Spirit GarudaFood: “Sukses Itu Lahir Dari Kejujuran, Keuletan, dan Ketekunan yang Diiringi Doa”


Alhamdulillah, Founder Spirit GarudaFood ini ternyata selaras dengan spirit saya juga, dalam menjalankan bisnis saya, maupun berbagi semangat sukses ke banyak orang melalui seminar dan workshop yang saya lakukan selama ini, sejak tahun 2004. Saya yakin ini pula yang mempertemukan saya dengan pihak GarudaFood, juga dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang memiliki keselarasan spirit dengan spirit saya. Hal-hal yang selaras pasti akan dipertemukan pada waktunya… karena hal itu sudah berada di dalam pancaran gelombang energi yang sama. Saya sangat yakin hal ini.


Tetap Semangat COY…!!!

Hebatnya lagi, berbicara di hadapan orang-orang yang memiliki spirit sama dalam hal ini yaitu para Leader GarudaFood, membuat saya semakin bertambah energi semangat saya. Saya semakin PASSION menyampaikan materi motivasi saya, dan ini juga membuat semua Leader semakin semangat dan mantap bisa mencapai target perusahaan pada tahun 2010 ini. BISA COY…!!! Begitulah saat mereka dengan penuh energi meneriakkan kesanggupan mereka mencapai target di tahun 2010 ini… BISA COY…! TETAP SEMANGAT…!!!


Bersama Bp. Fransiskus, Head of Manufacturing GarudaFood

Luar Biasa Prima! Sekali lagi saya memperoleh pengalaman yang memberdayakan dan tentunya pasti juga menghasilkan… hehehe… Senang sekali bisa ikut berbagi bersama orang-orang positif, bersemangat, dan selalu mau belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya, demi kehidupan yang lebih baik lagi. OK… GarudaFood… TETAP SEMANGAT…!!! BISA COY…!!!


Salam Luar Biasa Prima!
Wuryanano
http://wuryanano.wordpress.com/

Ada pendapat yang mengatakan bahwa suatu kepribadian yang dimiliki seseorang itu tidak mungkin bisa diubah. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mengubah karakter pribadi seseorang, akan membutuhkan waktu sepanjang hidup orang tersebut. Di negeri China bahkan ada sebuah peribahasa yang cukup lucu, menyatakan bahwa mengubah karakter pribadi seseorang itu, diibaratkan seperti mengasah sebuah tongkat besi sampai menjadi sekecil jarum jahit. Membuat sebuah jarum kecil dengan cara mengasah sebuah tongkat besi tentu saja membutuhkan waktu lama, disamping itu juga butuh tekad, keuletan, semangat juang, komitmen pribadi yang benar-benar tangguh; sehingga suatu saat sebuah tongkat besi akan benar-benar menjadi sebuah jarum kecil. Yaa…itulah sebuah kenyataan sesungguhnya tentang mengubah suatu watak atau karakter pribadi, yang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Saya sendiri sangat tidak setuju dengan pendapat bahwa karakter pribadi seseorang tidak bisa berubah. Kalau memang ternyata seseorang tidak pernah berubah karakter dirinya menjadi lebih baik, meskipun dia telah mengikuti berbagai acara seminar ataupun pelatihan-pelatihan pengembangan diri; maka sebenarnya bukan karena kesalahan seminar ataupun pelatihannya, tetapi orang tersebut memang tidak mau berubah, tidak mau meluangkan sedikit waktu dan tenaganya untuk membuatnya berubah lebih baik.

Saya yakin, bahwa suatu sikap mental atau karakter pribadi seseorang pasti masih bisa diubah, meskipun itu tentu saja membutuhkan waktu dan usaha yang benar-benar harus luar biasa prima. Satu hal kebenaran mendasar yang perlu Anda pahami, yaitu: karakter pribadi ataupun sikap mental pasti bisa diubah. Orang tidak pernah terlalu tua atau terlalu muda untuk bisa mengubah kepribadiannya lebih positif, lebih baik; dan memulai hidup baru dengan lebih produktif, kreatif, inovatif serta berani mengambil resiko dalam meraih keinginan dan cita-citanya.

Seorang bayi sejak di dalam kandungan pasti sudah akan menerima banyak sekali pengaruh, baik yang berasal dari zat gizi yang dikonsumsi oleh ibunya; maupun dari sikap mental sang ibu selama mengandungnya. Setelah sang bayi lahir ke dunia ini, pengaruh-pengaruh yang akan menyerangnya semakin bertambah besar dari segi kuantitatif maupun kualitatifnya.

Semasa kita masih kanak-kanak, sampai menjadi dewasa seperti ini; sering masih terbayang dengan jelas sekali bagaimana perjalanan hidup kita, pertumbuhan diri kita, yang tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan sekitar kita, khususnya pengaruh dari sikap orang tua kita sendiri dan orang-orang yang sangat dekat hubungannya dengan kita. Masih segar dalam ingatkan kita, bagaimana orang tua kita begitu sayangnya kepada kita; sehingga tanpa mereka sadari, sikapnya yang terlalu menyayangi diri kita itu sebenarnya justru membelenggu kebebasan kita untuk mengekspresikan jati diri kita sendiri.

Sikap orang tua yang over protective itulah pada gilirannya akan membelenggu jati diri kita sesungguhnya; sehingga kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri. Anda sendiri tentu masih ingat, orang tua Anda seringkali melarang Anda untuk melakukan kegiatan atau aktivitas yang Anda senangi. Jika kegiatan atau aktivitas Anda memang berbahaya, itu bisa dimaklumi. Tetapi pada kenyataannya, seringkali orang tua melarang anaknya melakukan sesuatu hanya sebagai suatu “kebiasaan melarang” saja. Orang tua sering salah dalam mempersepsikan sebuah bentuk larangan, dengan tidak menyadari dampak negatif dari larangan-larangan itu dikemudian hari pada si anak tersebut.

Contoh larangan itu, misalnya: ketika si anak ingin mandi sendiri, dilarang dengan alasan nanti tidak bisa bersih badannya; ketika si anak mau membeli pensil di toko sebelah rumah, juga tidak boleh sendirian, khawatir uangnya jatuh dan hilang; saat si anak ingin menghidupkan radio sendiri, orang tua juga tidak memperbolehkan dengan alasan cari frekuensi gelombangnya nanti tidak bisa pas, atau khawatir anaknya kena “strum”. Larangan-larangan inilah, pada dasarnya sebenarnya adalah TIDAK PERCAYA kepada kemampuan si anak, pada gilirannya akan membuat si anak pada masa dewasa nanti menjadi seorang yang juga “tidak percaya” pada dirinya sendiri. Rasa tidak percaya diri ini akan terus melekat pada diri anak tersebut sampai dia dewasa nanti.

Selain bentuk LARANGAN, banyak orang tua suka mengungkapkan KEPASRAHAN BERLEBIHAN terhadap kondisi yang ada pada diri mereka kepada anak-anaknya. Contohnya sebagai berikut: suatu ketika lewat di depan rumahnya sebuah mobil mewah dan tentunya harganya mahal sekali, lalu si anak berkata dengan takjub kepada orang tuanya, “Pa-Ma, mobil itu bagus sekali ya. Coba kita punya.” Orang tuanya menjawab, “Itu bukan hak kita, nak. Mobil kita cukup yang begini saja, nggak perlu mewah, itu bukan rezeki kita, itu rezekinya orang lain.”

Sewaktu jalan-jalan melewati sebuah kompleks perumahan mewah, lagi-lagi si anak berkata, “Mewah dan indah sekali rumah ini ya, seandainya kita juga punya”, langsung si orang tuanya menyahut, “Kita sudah diberi rezeki oleh Tuhan segini, ya harus diterima dan disyukuri. Jangan tergiur dengan milik orang lain. Hidup ini sudah ada yang mengatur.” Begitulah kurang lebih contoh bersikap dari orang tua yang “terlalu pasrah”, “nrimo ing pandum” dengan apa yang sudah dimilikinya.

Secara tidak disadari sikap pasrah yang berlebihan dari orang tua ini akan benar-benar meresap ke dalam pikiran si anak; dan menjadi sebuah pola berpikir di masa depannya, nanti pada saat dia dewasa. Bersyukur atas karunia Tuhan memang harus, tetapi terlalu pasrah atas apa yang diperolehnya merupakan sebuah sikap yang berlebihan; karena ini akan mengembangkan sifat dan sikap inferior di dalam diri kita, sebuah sikap yang memandang rendah diri sendiri, tidak percaya kepada diri sendiri; dan itu akan menghambat kesuksesan.

Masih ada lagi sikap orang tua yang juga kurang proporsional sebenarnya, tetapi ini juga sudah menjadi kebiasaan umum. Sikap itu adalah suatu sikap yang cenderung menakut-nakuti si anak. Suatu contoh, misalnya: “Jangan ke lapangan itu, nanti ada ularnya.” Atau, “Awas, di sungai itu ada hantunya.” Ini juga, “Hati-hati kalau gelap, banyak roh halusnya.” Atau ini, “Jangan begitu, nanti bisa salah.” Dan masih banyak lagi bentuk ungkapan orang tua, yang pada dasarnya adalah juga tidak percaya pada si anak tersebut, karena over protective terhadap anaknya.

Pernyataan-pernyataan orang tua yang cenderung menakut-nakuti inipun akan berdampak negatif pada perkembangan mental dan emosi si anak sampai dewasa kelak. Pada akhirnya anak itu sampai dewasanya menjadi selalu gampang takut untuk melakukan sesuatu, bahkan mungkin bisa menjadi suatu paranoid; suatu bentuk ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan logis.

Pada gilirannya, si anak menjadi sosok pribadi yang selalu tidak percaya diri, pribadi yang mudah goyah pendiriannya; pribadi yang selalu gamang dalam menentukan sikap, yang mana hal tersebut jelas-jelas akan menjadi penghalang dan penghambat terbesar dalam meraih cita-citanya di masa depan. Cara pendekatan orang tua yang salah seperti tersebut, benar-benar akan meresap ke dalam pikiran bawah sadar si anak, yang pada akhirnya berperan membentuk karakter pribadi dan sikap mentalnya.

Contoh-contoh sikap orang tua kepada anaknya, seperti saya jelaskan di atas tersebut, sangat berperan dalam membentuk sikap mental, jiwa kepribadian seseorang; dan bentukan itu bisa sangat kuat pada diri seseorang karena berlangsung dalam waktu lama sekali, puluhan tahun. Sehingga, memang untuk mengubah suatu sikap, watak atau kepribadian seseorang adalah tidak mudah; perlu waktu dan usaha keras untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi yang penting di sini adalah: watak atau kepribadian itu bisa di ubah.

Aldous Huxley, seorang pujangga besar Inggris pernah mengatakan, “Hanya ada satu sudut di alam semesta yang pasti akan bisa Anda perbaiki; itu adalah diri Anda sendiri.” Bahkan di Kitab Suci, Tuhan sendiri sudah mengisyaratkan dalam firmanNya, bahwa Dia tidak akan mengubah nasib manusia, jika manusia itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Tentunya Firman Tuhan ini pastilah suci dan kita sebagai manusia ciptaan NYA harus meyakini NYA.

Oleh sebab itu, jika Anda ingin sukses; maka Anda harus mau membentuk dan mengembangkan jiwa sukses itu di dalam diri Anda sendiri. Anda harus ada KEINGINAN sekaligus KEMAUAN untuk menjadi SUKSES. Keinginan dan kemauan untuk sukses itu sebuah pijakan, yang harus Anda tidak lanjuti dengan suatu perencanaan matang untuk meraih sukses dan mendapatkannya. Sukses harus Anda rencanakan sebelumnya, yang diawali dengan mengembangkan JIWA SUKSES itu sendiri.

Di dalam pelaksanaan meraih sebuah kesuksesan, Andapun harus mempunyai sikap ulet, tahan banting, pantang menyerah, dan selalu sertakan doa di dalamnya. Sebab jika tidak begitu, Anda akan mudah sekali untuk berkata, “Saya gagal!” Sesungguhnya sukses memang harus direncanakan sejak awal, sebab kita lahir di dunia ini jelas-jelas tidak langsung membawa jiwa sukses; apalagi dalam perkembangan dan perjalanan hidup kita ini banyak sekali pengaruh negatif yang masuk ke dalam diri kita, sejak dalam kandungan sampai dewasa ini; seperti contoh-contoh saya di atas tadi.

SELAMAT MENGEMBANGKAN JIWA SUKSES ANDA…

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Memang benar kata orang bijak bahwa Kalau Jodoh Takkan Lari Kemana. Dalam kehidupan ini, kadangkala hal-hal yang tidak benar-benar kita pikirkan bisa begitu saja menjelma jadi kenyataan, dan sebaliknya, hal-hal yang sudah memeras energi dan pikiran kita eeh… lha kok gak muncul-muncul dihadapan kita ya… Terus enaknya bagaimana ya? Apakah kita sebaiknya gak perlu memikirkan keinginan atau cita-cita kita? Lha kalau gak memikirkan masa depan sendiri, bagaimana kita bisa membuat jalan menuju ke sana…iya nggak? Hahaha… bingung, nggak? Yaa gak perlu bingunglah… ngapain juga memikirkan hal yang membuat kita bingung… hehehe…

Begini, pernah kah di sepanjang hidup Anda ini, Anda menerima sesuatu yang membuat diri senang? Sesuatu yang seringkali tidak Anda pikirkan secara serius? Yaa… sesuatu itu biasa disebut sebagai HADIAH. Mungkin saat itu Anda sedang menghadiri seminar, dan ternyata Anda dipanggil ke depan untuk menerima “doorprize”. Di lain waktu mungkin saat Anda sedang berbelanja, lalu ada kupon undian yang harus Anda isi, dan… ternyata beberapa hari kemudian Anda dihubungi untuk menerima HADIAH secara gratis. Bisa juga saat beli barang, ternyata Anda memperoleh HADIAH setelah mengambil kupon di dalam sebuah bejana. Mungkin juga Anda secara iseng-iseng mengisi Quiz di sebuah surat kabar atau majalah, dan mengirimkannya ke redaksinya… kemudian Anda mendapat kiriman HADIAH… Wow senangnya!

Yaa… banyak sekali kemungkinan yang sangat menyenangkan di kehidupan kita ini, jika kita mau melihatnya. Banyak sekali keberuntungan di sekeliling kehidupan kita ini, jika kita mau menyikapinya secara bijak penuh rasa syukur. Saya selalu YAKIN, bahwa setiap orang pastilah dianugerahi KEBERUNTUNGAN pada dirinya masing-masing. TIDAKLAH MUNGKIN jika kita tidak memiliki keberuntungan di sepanjang kehidupan kita ini.

Yaa meskipun nilai KEBERUNTUNGAN itu secara nominalnya bisa dikatakan KECIL, namun cobalah melihatnya dengan penuh rasa syukur, maka tidak ada yang namanya keberuntungan kecil. Sekali lagi TIDAK ADA KEBERUNTUNGAN KECIL… jika kita mau mensyukurinya… mensyukuri nikmat NYA yang telah dianugerahkan oleh NYA kepada kita sebagai manusia ciptaan NYA. “Barangsiapa yang bersyukur kepada KU, akan AKU tambahkan nikmat KU, dan barang siapa yang ingkar, maka siksa KU amatlah pedih” , begitu janji ALLAH kepada umat NYA.

Mensyukuri kehidupan penuh keberuntungan inilah yang selalu saya usahakan setiap saat, setiap detik, setiap denyut nadi di sepanjang hidup saya. Keberuntungan-keberuntungan yang pernah saya terima di dalam kehidupan ini, jika dinilai secara nominal memang tidaklah terlalu besar. Saya pernah memperoleh HADIAH sebuah Sepeda Mini, sebuah Sepeda Balap, sebuah Lemari Es dua pintu, sebuah Microwave, beberapa Voucher Belanja, beberapa Voucher Perdana GSM dan CDMA, sebuah Mesin Cuci Full Auto, sebuah DVD Player, sebuah Televisi 20 inci, beberapa Payung Hujan, beberapa Jam Dinding, beberapa Sabun Deterjen dan Pencuci Piring, beberapa Teh dan Minuman Kemasan Botol, sekantong Permen, sekotak Pensil, beberapa Buku Motivasi dan Komik, sebuah Handset GSM (semua hadiah sengaja tidak disebutkan Merk Dagangnya, biar gak disangka promosi gratis…hehehe), dan masih banyak sekali hadiah lainnya… yang jika dilihat nilai nominalnya itu tidaklah seberapa besar… nilainya masih berkisar di bawah 8 juta rupiahNamun satu hal penting yang saya rasakan adalah KEBAHAGIAAN. Keberuntungan-keberuntungan kecil ini sungguh membuat saya semakin merasakan kebahagiaan hidup. Apalagi sesungguhnya yang dicari manusia di bumi ini selain rasa kebahagiaan hidup?

Yaa, masih banyak dari kita dalam usahanya mencari dan menemukan kebahagiaan hidup, masih saja menemui banyak kendala yang bisa mengakibatkan dirinya menjadi frustasi, putus asa, lalu menjadi depresi berat dan akhirnya bunuh diri atau menjadi tidak waras alias orang gila. Bahkan ada contoh orang yang bisa dikatakan sebagai pengusaha super kaya raya, namun toh akhirnya dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Karena apa? Bisa jadi karena dia tidak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, meskipun materi kekayaan yang dimilikinya sangat besar. Kalau sudah begini, apakah kekayaan identik dengan kebahagiaan? Nah…

Bagi saya pribadi beserta keluarga saya, hal penting adalah selalu bersyukur terhadap apa pun yang terjadi, itulah jalan untuk merasakan dan mendapatkan kebahagiaan hidup. Apalagi di sepanjang kehidupan saya beserta keluarga saya ini selalu saja ada banyak keberuntungan yang saya peroleh, meskipun secara nilai nominal itu kecil sekali… maka itu makin memperkuat dan semakin saja menguatkan rasa bahagia di dalam lubuk hati saya, dan tentu saja berdampak sangat membahagiakan segenap keluarga saya, istri dan kedua anak lelaki saya. Ternyata bagi saya bukan berlimpahnya harta benda yang membuat bahagia, namun berbagai keberuntungan yang saya nikmati dengan rasa syukur beserta keluarga saya. Yaa, saya berusaha selalu Mensyukuri KEBERUNTUNGAN Kecil yang saya terima dalam kehidupan ini, untuk selalu memperoleh KEBERUNTUNGAN BESAR… yaitu KEBAHAGIAAN SEJATI hidup tentram sejahtera bersama segenap keluarga saya. Alhamdulillah…

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Apa BISNIS Anda di tahun 2010 Mendatang? Ini adalah Tema Seminar Kewirausahaan Nasional yang digelar oleh Majalah Wirausaha & Keuangan bersama dengan BRI, pada Sabtu, 12 Desember 2009, menghadirkan 8 Pembicara Entrepreneurship Nasional, bertempat di Deteksi Room Lantai 3, Gedung Graha Pena Surabaya, yang dihadiri oleh lebih dari 200 orang. Saya termasuk salah seorang dari 8 Pembicara itu.

Pada SELASA, 8 Desember 2009, pk.08:00, bertempat di Aula SMK PGRI Sooko, Mojokerto, saya berkesempatan memberikan Materi pada Seminar Entrepreneurship atas Undangan Dinas Pendidikan Mojokerto. Seminar Entrepreneurship ini dibuka oleh Bupati Mojokerto, Bapak H. Suwandi. Peserta seminar ini adalah seluruh Kepala Sekolah SMK se Mojokerto dan para guru kewirausahaan di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) se Mojokerto.

SAMBUTAN Kepala Dinas Pendidikan Mojokerto

SAMBUTAN dan Pembukaan Seminar oleh BUPATI Mojokerto

Di dunia pendidikan seperti SMK ini memang sudah lebih kental nuansa kewirausahaannya dibandingkan dengan pendidikan di SMA (Sekolah Menengah Atas). Oleh karena itu, hal penting yang harus dilakukan adalah, mengubah mindset para Kepala Sekolah dan Guru Kewirausahaan ini lebih dulu menjadi mindset seorang Entrepreneur barulah bisa menularkan virus entrepreneur kepada anak didiknya.

Older Posts »