KEBIASAAN itu ASET, ataukah Tanggung Jawab?

Sekilas, kebiasaan adalah rutinitas kecil dan tidak membahayakan. Rutinitas membantu mengatur aktivitas setiap hari dan memberi hidup penuh arti. Tetapi tidak semua kebiasaan kita itu kecil … atau tidak membahayakan. Sebenarnya, jika semua yang dikatakan dan dilakukan adalah siapa kita … dan menjadi apa … adalah akumulasi dari kebiasaan baik dan buruk … akumulasi dari kebiasaan produktif dan kebiasaan tidak produktif, maka seperti kata bijak: “Orang tidak menentukan masa depan. Mereka menentukan KEBIASAAN … dan kebiasaan MENENTUKAN MASA DEPAN.”
 
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita meningkatkan kesadaran tentang keuntungan jangka panjang dari memilih kebiasaan … kebiasaan produktif ataukah kebiasaan tidak produktif. Kita harus memupuk kebiasaan produktif … dan harus berusaha menggantikan kebiasaan yang tidak produktif dengan yang produktif. Itulah sebabnya perlu memilih setiap kebiasaan dengan sangat hati-hati, karena Anda bisa memiliki kebiasaan itu selama sisa hidup Anda!

Kendalikan EMOSI Yang Berkuasa

“Setengah kesalahan kita dalam hidup, muncul dari perasaan yang semestinya dipikirkan — dan pemikiran yang semestinya dirasakan.”

Mari kita bicarakan sejenak tentang kekuatan emosi, dan bagaimana emosi memengaruhi kehidupan secara mendalam — kadang-kadang menjadi lebih baik — tetapi seringkali lebih buruk.
Misalnya, pernahkah Anda tahu seseorang di sebuah perusahaan, yang berhenti kerja karena marah … dan akhirnya ia menyesali keputusannya itu di kemudian hari. Pernahkah Anda melihat orang dengan kelebihan berat badan, yang memesan makanan berkalori tinggi, lalu berkata kepada pelayan, “Saya minta Diet Coke, saya sedang menurunkan berat badan.”

DNA Anda BUKAN Penentu Sukses Anda

Keyakinan bahwa kehidupan kita ini dipengaruhi dan dikendalikan oleh GEN, sampai detik ini masih sangat tertanam kuat di sebagian besar manusia di muka bumi ini. Ketika saya masih mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, ada mata kuliah biologi dan histologi, dengan berbagai materi mengenai kehidupan sel, sitoplasma, mitokondria penghasil energi, dan soal genetika serta mekanisme pengendalian kehidupan biologis oleh GEN yang lebih dikenal dengan sebutan DNA selaku materi pembentuk GEN ini, menurut James Watson dan Francis Crick, yang menjelaskan struktur dan fungsi rantai ganda DNA. Molekul DNA panjang seperti benang, terbuat dari empat bahan kimia basa, yang mengandung nitrogen (Adenosin, Timin, Cytosine, dan Guanine atau A, T, C, dan G).
 
Disebutkan bahwa DNA bukan hanya bertanggung jawab atas karakteristik fisik, namun ia juga mengendalikan emosi dan perilaku. Inilah GEN sang pengendali kehidupan, bagi hewan maupun manusia, yang tidak mudah untuk membantahnya bahwa bagaimana cara kita hidup, itu tak bisa terlepas dari peran serta GEN dalam diri kita. Benarkah sedemikian besar pengaruh GEN atas kehidupan kita? Apakah kesuksesan dan kebahagiaan kita juga akibat pengaruh kendali dari GEN kita, dari DNA kita?

DICIPTAKAN Untuk PENCAPAIAN

Satu hal yang selalu saya yakini adalah bahwa TUHAN menciptakan manusia di muka bumi ini PASTI ada tujuanNYA. Dan, masing-masing dari kita PASTI diciptakan untuk suatu tujuan, suatu alasan. Hal inilah yang semestinya bisa kita pahami, untuk apa diri kita terlahir ke dunia ini, jika tidak memiliki tujuan yang pasti. Plato, salah seorang pemikir besar dunia pernah mengatakan, “Sesuatu yang diciptakan, tentunya harus diciptakan untuk suatu sebab.” Nah, bagaimana kita bisa menyimpulkan ucapan Plato tersebut? Saya pikir kesimpulannya adalah: Tujuan kita diciptakan adalah untuk mengeluarkan segenap potensi diri kita. Kita diberi kehidupan, dan tujuan kita hendaknya menghasilkan kesuksesan darinya. Dan, kesuksesan itu hanya dapat diukur dengan membandingkan, apa yang benar-benar kita capai, dengan apa yang secara potensial sanggup kita capai.
 
Kebanyakan dari kita tampak tidak sanggup memahami fakta, bahwa kita ini merupakan kemuliaan ciptaan dari TUHAN sebagai karunia untuk Alam Semesta. Tidak ada batasan pada potensi kita untuk kesuksesan dan kemuliaan dalam kehidupan. Dalam diri setiap individu terdapat potensi, yang menunggu untuk digunakan. Apakah Anda ingat saat di sekolah dulu, pernah berpikir: “Bagaimana saya dapat melakukan itu?” — saat Anda diminta oleh guru Anda untuk mempelajari suatu ketrampilan baru. Dan setiap kali Anda dengan semangat mencoba melakukan perintah guru Anda, Anda mendapati diri Anda bahwa Anda mempunyai kemampuan. Namun Anda harus benar-benar mengerahkan segenap diri Anda untuk berhasil melakukannya, sebagaimana seorang anak yang baru belajar berdiri menghadapi beberapa kali jatuh yang tak dapat dihindarinya, tapi ia terus berupaya berdiri dan akhirnya berhasil.

Mengelola PERSEPSI … Menggeser PARADIGMA

Cara kita memandang dunia memengaruhi berbagai pengharapan kita. Cara pandang itulah yang bisa menciptakan prasangka dan mendistorsikan keyakinan kita, juga membuat kita memandang berbagai hal sebagai sesuatu yang tidak nyata. Cara pandang itu pula yang membuat kita sinis, skeptis. Tapi apa yang terjadi, seandainya pendapat itu keliru, dan kita tidak bisa membuktikannya lantaran selalu bertindak dengan sikap yang sama?
 
Banyak sikap turun-temurun yang membuat kita terkondisikan untuk menanggapi segala sesuatu secara historis, bukan fungsional. Ketika ditanya mengapa kita melakukannya dengan cara tertentu, kita cenderung menjawab “lantaran ini” atau “lantaran itu”, BUKAN “agar kita bisa mencapai ini atau itu”. Konsekuensi cara berpikir yang merusak ini adalah: kita cenderung memandang masa depan sebagai sekedar perpanjangan masa lalu. Kita cenderung menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan cara berpikir kita yang telah ter-prakondisikan itu.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers